​PEMALANG DARI ZAMAN KE ZAMAN

Di wilayah Kabupaten Pemalang khususnya di Pulau Jawa pada umumnya, para pakar sejarah, pini sepuh dan lapisan masyarakat sejak dahulu kala, mengatakan bahwa Pemalang adalah kota tua nan luas wilayahnya.
Kami sajikan urutan dari zaman ke zaman, dari tahun ke tahun sebagai berikut:
1.Tahun 700 :

Pemalang diperintah oleh keturunan Sanjaya yang bernama Rakai Panaraban ( Raja Sunda keturunan Mataram), pusat pemerintahannya di Panaraban Warung Asem Pekalongan, sebagai buktinya banyak tempat-tempat dengan nama depan : Ci.
2.Tahun 924 :

Mengori (Manghuri) tempat tinggal pejabat keagamaan tertinggi dengan pangkat Sang Pamigat. Manghuri/pejabat yang melaksanakan/memutuskan perkara peradilan yang lewat hukum Agama Hindu-Budha pada zaman itu.
3.Tahun 1019 :

Prasasti Kalkuta yang menyebutkan bahwa Pemalang dipimpin oleh Raja bergelar Aji Wora-Wari, pusat pemerintahannya di MASIN Warung Asem, sekarang wilayah Pekalongan selatan.
4.Tahun 1034 :

Kahuripan (sebelah barat Ampel Gading) di Desa Depok Pedurungan, pernah menjadi tempat tinggal Ki Gede Pupus (Buyut Sambung Yudha) dan Ki Patih Cincing Murti. Keduanya adalah Penguasa Pemalang ( Prasasti Singo Wikromo Wardana ).
5.Tahun 1358 :

Zaman Prabu Hayam Wuruk ( Prasasti Trowulan tahun 1358 ), beberapa daerah di wilayah Pemalang yaitu :
1. Kendal, yang sekarang bernama Kendal.

2. Randu Gowok, sekarang terkenal Kedung SiGowok, terletak di Batang.

3. Lowaru, sekarang bernama Waru Lor dan Waru kidul, terletak di Kecamatan Wiradesa Pekalongan.

4. Bajro Puro, sekarang bernama Sapuro Pekalongan.

5. Sambo, masih bernama Sambo di Pekalongan.

6. Ketapang, terletak di Kecamatan Ulujami utara dekat pesisir utara laut Jawa.

7. Lowayu, sekarang Desa Lowo di Kecamatan Comal Pemalang.

8. Resirawun/Resiwuran, sekarang dikenal Sirawung terletak di Desa Loning Petarukan utara.

9. Pakebonan, sekarang Desa Kabunan Kecamatan Taman Pemalang tempat Makam Ki Buyut Pupus (Sambung Yudha) Penguasa Pemalang.

10. Duri, sekarang Desa Widuri terletak di pesisir utara Pemalang.

11. Pagaran, sebelah selatan Desa Widuri.

12. Waringin Wok, sekarang bernama Desa Tambak Pemalang.

13. Pabulangan, sekarang Bantarbolang Pemalang.

14. Bangkal, sekarang Randudongkal Pemalang. Menurut cerita orang tua dulu, besok Kota tersebut menjadi Kota Kanjegan/Kota Kabupaten.

15. Mering, sekarang Mereng Kecamatan Pulosari Pemalang.

16. Parung, sekarang Parunggalih Kecamatan Watukumpul Pemalang.

17. Tegalan, sekarang Kotamadya Tegal.

18. Belawi, sekarang Kota Slawi Tegal.

19. Widang/Klidang, di Batang utara, Pekalongan.

20. Prijik, Jarebeng, Dalangara, Klimudi dan sebagainya.
Tanah tersebut adalah Perdikan yang tidak boleh dipungut oleh Pemerintah Pusat Majapahit.

(Pegawai bertiga: 1. Katrini, 2. Tawan, 3. Tirip)

Prasasti Trowulan di musium pusat Jakarta dengan kode: E.36 dan E.54 semuanya terdiri dari sembilan kepingan.
6. Tahun 1500 – 1586 (Abad ke XVI) :

Zaman Demak dan Pajang Pemalang, menjadi pusat perhatian para Wali dalam penyebaran Agama ISLAM, seorang Wali yang berkuasa di Pemalang, bernama Sunan Geseng atau Syech Jambu Karang, konon pernah bertukar ilmu dengan Syech Maulana Maghribi dari Persia, karena dirasa cukup maka beliau pindah bersama beberapa santri ke Gresik Jawa Timur. Syech Geseng saat itu tinggal di Sirawung, sekarang Desa Pesantren Kecamatan Ulujami sebelah utara Petarukan.
7. Tahun 1575 – 1601 :

Saat itu Pemalang dipimpin oleh Patih Benowo I dengan Patihnya sebagai penggerak pembangunan bernama Patih Sampun Jiwo Negoro. Setiap perintah sang Pangeran selalu di laksanakan dengan cepat dan selalu dijawab “Sampun Dados”, kemudian beliau diwisuda dengan gelar “Patih Sampun”. Tanda bukti yang telah dilaksanakan oleh Patih Sampun Jiwo Negoro antara lain ;
a. Sungai Bacin/ Banger, di samping Kantor Pegadaian Pemalang.

b. Jembatan Gianti, depan Resort Polisi Sirandu Pemalang.

c. Jembatan kali Srengseng, masuk Desa Kebondalem Pemalang.

d. Jembatan Kali Waluh di Kedung Banjar Petarukan.

e. Jembatan Kali Comal.

f. Jembatan Kali Sudetan Rambut di Desa Lawangrejo Pemalang.

g. Jembatan Kali Sudetan Desa Krasak.

h. Jembatan Pesapen, depan kantor Kecamatan Pemalang.

i. Jembatan Slarang Kali Waluh, di perbatasan Desa Lenggong Slarang.

j. Jembatan Kali Raja/Siraja, di Igir Petir wilayah hutan Bantarbolang, Dukuh Simbang Desa Pegiringan.

k. Jembatan Perkebunan Kelapa Gentong Reot perbatasan Desa Karang Moncol.

l. Jembatan Kali Comal yang disudet di Desa Mejagong.

m. Jembatan Kali Comal antara Desa Kecepit dan Desa Datar.

n. Jembatan Sudetan di Moga antara muka pemandian dan Pesangrahan.

o. Jembatan Kali Comal di perbatasan Desa Cikasur dan Randudongkal.

p. Jembatan di Desa Bulakan.

q. Jembatan di Desa Beluk.
Dan saat itu Patih Sampun dihormati dan disayang oleh Pangeran Benowo, dan tentunya dibanggakan oleh rakyat Pemalang dan sangat disegani oleh pihak musuh, karena saktinya beliau dijuluki Banteng Wareng Sinayudan. Pada saat itu juga ada Patih dari Banten namanya Talabudin dikenal Kalabudin, tujuan beliau adalah memohon dikembalikannya Keris Luk Tigabelas, bernama “Kyai Tapak”. Meskipun kalah tanding, namun oleh Patih Sampun, beliau diangkat menjadi penasehat keraton dan pengembang Agama Islam di Pemalang. Pusat Pendidikannya di Depok Pedurungan sampai wafat dan dimakamkan di Desa Pedurungan tengah. Pangeran Benowo dimakamkan di Desa Penggarit Kecamatan Taman Pemalang. Patih Sampun wafat tahun 1616 dimakamkan di Dukuh Depok Slatri Wanarejan, Taman Pemalang.
8. Tahun 1602 – 1627 :

Pemalang diperintah oleh Adipati Mangum Oneng, di Pemalang terkenal dengan nama Adipati Mangoneng. Pada saat itu wilayah kekuasaannya mencapai wilayah Batang, patihnya masih dijabat Patih Sampun Djiwo Negoro dengan penasihat Syeik Talabuddin dengan pusat pemerintahannya di Krayunan, Bojongbata. Bukti makamnya Raden Mangoneng masih ada di Bojongbata Pemalang
9. Tahun 1628 :

Pemalang merupakan daerah Lungguhan (pasal) dengan penguasanya Pangeran Purbaya II. Pemalang sendiri merupakan pemerintahan mandiri kala itu.
10. Tahun 1677 :

Pada masa pemerintahan Amangkurat II, seluruh pantai utara termasuk Pemalang diserahkan Kepada VOC (Kompeni).
11. Tahun 1704 – 1708 :

Pada masa pemerintahan Amangkurat III, rakyat Pemalang berusaha lepas dari kekuasan Kompeni, Amangkurat III ditangkap oleh kompeni dan dibuang ke Sailon sampai wafat tahun 1737, dan jenazahnya dimakamkan di Imogiri Jogjakarta. Putranya yang bernama Buminoto melanjutkan perjuangannya di Pemalang dengan dibantu oleh putra-putranya,yaitu:
1 . Ki Ronggo Rajekwesi atau Palang Negara.

2 . Ki Ronggo Bumiwaret Plempohan, Pegiringan.

3 . Ki Kebo Duk, Mancasan Tambak Waringin.

4 . Ki Kebo Gedung, Tangerang Jawa Barat.

5 . Nyi Alus Mandiraja Pemalang.

6 . Ki Wira Negara I, Petinggi Pemalang di Pekarangan.

7 . Ki Dadung Awuk, Mandiraja Moga Pemalang.
Dan akhirnya BPA Buminoto wafat dimakamkan di Mandiraja Moga.
12 . Tahun 1743 :

Jaman Pakubuwono II, wilayah Kadipaten Pemalang yang dahulunya membawahi Kademangan ( Kawedanan ; Tegal dan Brebes ) dipecah menjadi tiga kabupaten yaitu:
-Kabupaten Pemalang

-Kabupaten Tegal

-Kabupaten Brebes
Selanjutnya pengangkatan Bupati harus dengan persetujuan Kompeni. Batas berdirinya Pemalang tahun 1575.

#SejarahPemalang
#ExplorePemalang

 

Sumber Judi Cruise

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Bantuan!
Selamat Datang Di Layanan Whatsapp Resmi Info Pemalang